RSS

China Membangun Galangan Kapal terbesar di dunia

Saat ini shipyard atau galangan kapal terbesar di dunia ada di Ulsan, Korea Selatan. Namun rekor itu nampaknya sebentar lagi akan beralih ke China, China State Shipbuilding Corp (CSSC) atau gampang dikenal sebagai PT PAL-nya China telah membangun galangan kapal yang berlokasi di pulau Changxign. Lokasinyi mencakup panjang pantai hingga 8 kilometer dan diperkirakan akan fully operated di tahun 2015.Galangan ini juga dipersiapkan untuk membangun kapal dengan teknologi tinggi seperti kapal perang masa depan, supertanker dan LNG Carrier. Galangan ini juga akan mendorong industri baja dan manufaktur mesin di China. Selain itu diperkirakan galangan ini akan menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 80.000 orang.Jadi ketika Jepang mepersiapkan perang market shipbuliding tahun depan, maka China sudah bersiap untuk bertahan hingga 5 tahun kedepan.
Source : Indonesianship.com
 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

Mengenal Dunia Maritim Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan, antara pulau yang satu dengan pulau yang lainnya dipisahkan oleh laut, tapi dalam hal ini laut bukan menjadi penghalang bagi tiap suku bangsa di Indonesia untuk saling berhubungan dengan suku-suku di pulau lainnya. Sejak zaman bahari, pelayaran dan perdagangan antar pulau telah berkembang dengan menggunakan berbagai macam tipe perahu tradisional, nenek moyang kita menjadi pelaut-pelaut handal yang menjelajahi untuk mengadakan kontak dan interaksi dengan pihak luar. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, pelayaran yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia (Nusantara) pada zaman bahari telah sampai ke Mandagaskar. Bukti dari berita itu sendiri adalah berdasarkan penelitian yang dilakukan yaitu tipe jukung yang sama yang digunakan oleh orang-orang Kalimantan untuk berlayar “Fantastis”. Apa yang terjadi dalam dunia maritim Indonesia pada zaman bahari telah menjadi Trade Mark bahwa Indonesia merupakan negara maritim. Tetapi apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang mempunyai banyak pulau, luasnya laut, belum menjadi modal utama bahwa negara tersebut adalah negara maritim. Namun, seberapa besar penduduk suatu negara itu berorientasi ke laut, itulah yang menjadi acuan bahwa negara itu adalah negara maritim. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip pernyataan salah seorang sejarawan kal-sel yaitu bapak Bambang subiyakto dalam tulisannya yang berjudul”Pelayaran, pelabuhan dan perdagangan Banjarmasin 1857-1957” bahwa Indonesia adalah “Negara kepulauan”, Indonesia adalah “Nusantara”, Indonesia adalah “Negara Maritim” dan Indonesia adalah “Bangsa Bahari”,”Berjiwa Bahari” serta “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya merupakan slogan kata, sloganistis. Suatu hal yang hanya diucapkan belaka oleh manusia Indonesia sejak “Balita” sampai “Manula”. Sebuah pernyataan yang relevan dan sesuai untuk menggambarkan citra dunia maritim Indonesia saat ini.
Indoneisa menyandang predikat “Negara Maritim” dan juga “Negara Agraris”. Predikat itu telah ada sejak zaman kerajaan, dimana kerajaan-kerajaan tersebut masing-masing berorientasi ke laut dan juga berorientasi ke pedalaman, dalam hal ini pertanian. Kita bisa bangga, bagaimana kerajan Sriwijaya dan kerajan majapahit menjadi kekuatan yang begitu besar dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Asia Tenggara, itu semua dikarenakan mereka membangun kekuatan dengan mengembangkan kemaritiman untuk kejayaan negara, meski setelah Sriwijaya dan Majapahit runtuh dikarenakan pergolakan politik dalam negeri dan juga mulai meluasnya pengaruh Islam pada zaman Majapahit. Namun, potensi kemaritiman terus berkembang. Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir pantai seperti Demak, Banten, Aceh, dan lain-lain. Menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan tersebut terus mengembangkan potensi laut untuk kejayaan negaranya masing-masing.

Laut dijadikan ladang mata pencaharian, laut juga dijadikan sebagai tempat menggalang kekuatan, mempunyai armada laut yang kuat berarti bisa mempertahankan kerajaan dari serangan luar. Memang, laut dalam hal ini menjadi suatu yang sangat penting sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang. Mengoptimalkan potensi laut menjadi harga mati yang harus segera di realisasikan oleh pemerintah Indonesia.
Berkaca dari masa lalu, melihat bagaimana kejayaan masa lampau diperoleh karena mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan politik suatu negara, maka menjadi suatu hal yang wajar bila sekarang ini Indonesia harus lebih mengembangkan laut demi tercapianya tujuan nasional. Indonesia menyandang predikat “Negara Maritim” atau negara kepulauan, predikat ini mustahil ditinggalkan, lain halnya dengan predikat “Negara Agraris” yang suatu saat bisa berganti dengan industri. Konsekwensi sifat maritim itu sendiri lebih mengarah pada terwujudnya aktifitas pelayaran di wilayah Indonesia. Dalam kalimat ini bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dalam membangun perekonomian akan senantiasa dilandasi oleh aktivitas pelayaran. Pentingnya pelayaran bagi Indonesia tentunya disebabkan oleh keadaan geografisnya, posisi Indonesia yang strategis berada dalam jalur persilangan dunia, membuat Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan laut. Laut akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi pertumbuham dan perkembangan perekonomian Indonesia atau perdaganagan pada khususnya.

Dunia maritim Indonesia telah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, kalau pada zaman dahulu mencapai kejayan baik dalam bidang politik maupun ekonomi, sekarang ini tidak tampak sedikit pun kemajuan yang dapat dilihat. Ironis memang, Indonesia yang mempunyai potensi laut sangat besar di dunia kurang begitu memperhatikan sektor ini. Padahal, laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara “Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia”, demikian dalil yang dikemukakan oleh Mahan, wajar saja kalau Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul “The Influence of Sea Power Upon History” (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali, Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan berupa gunung, jurang dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Buku Mahan in ternyata berpengaruh sekali terhadap kekuatan-kekuatan dunia pada waktu itu, Inggris semakin meningkatkan kemampuan maritim. Pada akhir abad XIX, Amerika serikat di bawah Theodore Rosevolt, Jerman di bawah kaisar Wilhem II dan Jepang dibawah pemerintahan Meiji mulai membangun kekuatan laut yang besar.
Studi Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya.

Harus di akui bahwa orientasi ke dunia bahari sudah dimulai sejak kita menerima wawasan Nusantara sebagai dasar pemikiran negara, namun dikalangan banyak pengambil keputusan, wawasan ini masih berupa slogan. Wawasan nusantara setiap jengkal wilayah sama penting, akan tetapi masih banyak pulau belum disentuh, malahan belum ada namanya. Hanya jika sebuah pulau disengketakan oleh negara lain, baru ada upaya untuk memperhatikannya. Sepeti kasus pulau Sipadan dan Ligitan juga kepulauan Ambalat yang berbuntut pada sengketa panas antara Indonesia dengan Malaysia. Agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, hendaknya pemerintah Indonesisa mengambil langkah-langkah untuk segera mengamankan pualu-pulau terluar di Indonesia agar tidak di caplok oleh negara tetangga. Mungkin negara-negara tetangga seperti Malaysia menganggap remeh kekuatan laut kita hingga ia begitu berani keluar masuk perairan Indonesia. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia,menhargai laut dan menjaga eksistensi. Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Pertambangan laut dan pemanfaatanya sebagai sumber energi makin banyak dikembangkan, begitu pula usaha wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa negara.

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

KRI Cakra 401 Kapal Selam Republik Indonesia

Galangan kapal terkemuka Korea Selatan Daewoo telah merampungkan tugasnya dalam mengembalikan kemampuan tempur KRI Cakra, salah satu kapal selam buatan Jerman yang dimiliki TNI AL dan segera dilayarkan kembali ke perairan yang menjadi medan pengabdiannya. Kehadiran KRI Cakra yang bernomor lambung 401 pada tanggal 19 Maret 1981 seolah menuntaskan dahaga TNI AL akan kebutuhan kapal selam disel elektrik moderen sebagai pengganti armada kapal selam klas Whiskey buatan Uni Sovyet yang satu demi satu harus dibesituakan karena ketiadaan suku cadang senagai imbas putusnya hubungan diplomatik dengan negara pembuatnya pasca pemberontakan Komunis 1965. Pilihan Indonesia pada kapal selam buatan industri Howaldt Deutsche Werke (HDW), Kiel ini sesuai dengan tuntutan strategis akan kebutuhan sosok kapal selam berkemampuan jelajah samudera dengan kelengkapan sensor dan senjata yang modern serta cocok dioperasikan di perairan tropis. Sampai tahun 1980 HDW telah memasarkan kapal selam klas 209 dengan berbagai variannya sebanyak 22 unit ke delapan negara Eropa dan Amerika Selatan tanpa terjadi komplain oleh negara pemakainya. Sampai tahun 2006 ini U-209 menjadi kapal selam paling laris di dunia dengan jumlah 64 unit dan dioperasikan oleh 14 negara di Eropa (3 negara), Amerika Latin (7 negara), Asia (3 negara)dan Afrika (1 negara). Keberhasilan ekspor kapal selam generasi ketiga Jerman ini tidak dapat dilepaskan dari tampilan teknologi yang lebih maju dari kapal selam disel elektrik sebelumnya seperti klas Whiskey buatan Rusia dan seangkatannya seperti klas Oberon buatan Inggris disertai manajemen penjualan yang user oriented . Kemajuan teknologi kapal ini terletak pada rancang bangun kapal, sistem penggerak,sensor dan senjata. Kemajuan rancang bangun mencakup struktur lambung monohull, desain kapal yang streamline, dan bahan lambung yang terbuat dari baja non magnetik. Rancang bangun ini memungkinkan kapal selam ini bermanuver secara lincah di dasar laut disertai dengan kemampuan mereduksi pantulan sonar. Kapal  kapal selam disel elektrik saat ini meniru rancang bangun U-209 ini. Sistem penggerak pada kapal ini dirancang untuk mampu mendorong kapal selam lebih cepat melaju di bawah air dalam endurance di bawah permukaan yang lebih tinggi. Sepertiga bagian dari isi kapal selam ini dipenuhi oleh sistem pendorong yang berupa satu mesin pendorong, empat mesim disel, dan empat generator serta empat buah baterai yang masing masing terdiri dari 120 cell. Komposisi sistem penggerak ini mampu mendorong kapal selam pada kecepatan maksimal 21,5 knot saat menyelam dan 8 knot sat berlayar di permukaan serta berlayar snarting. Bandingkan dengan klas Whiskey yang hanya melaju di kedalaman dengan kecepatan maksimal 13 knot. Keunggulan teknologi lainnya adalah pilihan aplikasi persenjataan dari torpedo konvensional, advanced torpedo semacam torpedo SUT (Surface and Undersurface Torpedo) yang dapat dikendalikan dari kapal selam melalui kabel serat seperti yang dipasang pada dua kapal selam TNI AL, hingga peluru kendali anti kapal permukaan seperti yang diterapkan pada klas Shisumar AL India. Variasi senjata ini menjadi daya tarik tersendiri pada kapal selam U-209 ini. Perusahaan HDW menekankan pada kebutuhan pengguna kapal selam produknya. Desain kapal selam U-209 di daerah sub tropis seperti Yunani berbeda dengan kapal selam U-209 yang dioperasikan di perairan tropis. Kapal kapal selam tropis membutuhkan pendingin udara kabin untuk memberikan kenyamanan pada awak kapalnya, tingginya kadar garam (salinitas) air laut tropis juga memerlukan jenis sonar yang tidak sama dengan sensor bawah air di kawasan sub tropis. Disamping itu perusahaan Jerman ini juga memberikan kebebasan pada customernya untuk memilih persenjataan yang dibutuhkan untuk kapal selam dipesannya. Kiat yang paling penting lainnya adalah memberikan layanan purna jual berupa perbaikan yang dikerjakan di galangan Jerman atau di luar Jerman. Perusahaan ini juga memberikan lisensi pembangunan U-209 kepada galangan galangan kapal di luar Jerman seperti Mazagon India dan Daewoo Korea. Overhaul KRI Cakra Bersama adik kembarnya, KRI Nanggala-402, eksistensi KRI Cakra menjadi andalan kekuatan pemukul TNI AL sejak tahun 1981. Rangkaian operasi laut dan patroli laut menjaga perairan Indonesia menjadi menu utamanya setiap tahun. Karena hanya memiliki dua kapal, satuan kapal selam Armada RI Kawasan Timur harus membagi rotasi dua elemennya ini secara maksimal. Tentu saja jam layar keduanya amat tinggi dari unsur unsur kombatan lainnya dengan komposisi operasi-siaga di pangkalan-perbaikan (1/3:1/3:1/3), sedangkan satuan kapal selam menganut kekuatan operasi dan kekuatan lainnya perbaikan. Jam layar yang sedemikian tinggi membuat KRI Cakra harus mengalami perbaikan besar atau overhaul pada tahun 1993. Perbaikan ini difokuskan pada pengembalian performa sistem pendorong, pergantian baterai dan meng up date sistem sensornya. Seluruh perbaikan tersebut dilakukan di galangan PT PAL Surabaya selama empat tahun. Sejak saat itu kiprah kapal selam ini semakin tinggi karena KRI Nanggala menyusul masuk dock pada tahun 1997-1999. Tujuh tahun setelah perbaikan besarnya, kemampuan KRI Cakra semakin menurun sehingga pemimpin TNI AL mengajukan program perbaikan besar dan sejumlah pergantian pada sebagian peralatan radar dan sonarnya dengan spare part baru. Pekerjaan mengembalikan performa KRI Cakra ini merupakan pekerjaan besar yang memerlukan galangan kapal yang berpengalaman untuk dapat menyelesaikan overhaul dengan hasil optimal dan cepat mengingat Indonesia membutuhkan kehadiran kapal selam ini. Pilihan jatuh pada galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering(DSME), sebuah industri pembuatan kapal Korea Selatan yang berdomisili di kota Ockpo. Perusahaan ini telah mendapatkan lisensi dari HDW untuk membuat kapal kapal selam klas U-209. Reputasi perusahaan tidak diragukan lagi dalam urusan pembuatan dan perbaikan kapal selam karena telah berhasil memproduksi 9 unit kapal selam U-209/1200 setipe dengan KRI Cakra klas Chang Bo Go untuk AL Korea Selatan sejak tahun 1989 beserta perbaikannya dengan hasil memuaskan. Dengan kata lain perusahaan itu memiliki kemampuan tinggi untuk melaksanakan overhaul. Kontrak perbaikan KRI Cakra ini disepakati pada tahun 2004 senilai 60 juta dolar US dan dikerjakan selama 22 bulan. Overhaul itu meliputi perbaikan bangunan kapal, peralatan navigasi, peralatan komunikasi, sistem kendali senjata, disel generator, tangki tangki-tangki, dan peralatan sensor(radar dan sonar), serta penggantian sejumlah komponen radar dan sonar dengan peralatan baru. DSME memenuhi jadwal yang ditentukan. Perbaikan mulai dilaksanakan pada pertengahan Mei 2004, pada awal bulan Februari 2006 seluruh pekerjaan telah diselesaikan, dan diuji coba pada tanggal 13 Februari 2006. Menurut Kasal Laksamana TNI Slamet Soebijanto, perbaikan itu mengembalikan performa KRI Cakra 80 % dari kemampuan tertingginya. Bila saat pemberangkatannya menuju Korea Selatan, kapal selam ini digendong dengan kapal tunda raksasa, maka saat berlayar kembali ke tanah air, 60 personel TNI AL dibawah pimpinan komandan KRI Letkol Laut (P) Iwan Isnarto melayarkannya dari Korea Selatan ke Indonesia dengan menempuh jarak 2812 mil laut dalam waktu 16 hari. Pelayaran ini sekaligus digunakan untuk menguji semua kemampuannya terutama sejumlah sistem yang menjadi fokus perbaikan di DSME tersebut. KRI Cakra tiba di pangkalannya dermaga Ujung Surabaya pada tanggal 21 April 2006. Upacara penyambutannya pun langsung dipimpin oleh Kasal Laksamana TNI Slamet Soebijanto. Hal ini menyuratkan betapa pentingnya kapal selam tersebut bagi armada tempur TNI AL saat ini. Kapal selam yang memakai nama senjata sakti tokoh pewayangan Sri Kresna ini kini telah kembali bertugas bersama saudara kembarnya yang menyandang nama senjata sakti Baladewa itu. Bergabungnya kembali kapal selam tersebut paling tidak cukup melegakan mengingat kompleksnya ancaman keamanan laut di Indonesia. Kasal mengharapkan pemerintah dapat memenuhi 12 kapal selam yang dalam kajian angkatan laut kekuatan tersebut akan mampu memberikan daya pukul dan memberikan efek penangkalan kepada semua pihak yang mencoba mengusik kedaulatan di perairan Indonesia. Orang nomor satu dijajaran TNI AL itu meyakini bahwa kapal selam merupakan alut sista angkatan laut yang paling strategis. Selamat bertugas kembali Cakra sambil mengharapkan kedatangan kapal kapal selam berikutnya di jajaran TNI AL.

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

Museum Samudra Raksa

Museum Kapal Samudraraksa berada di dalam komplek Candi Borobudur. Museum ini adalah tempat persemayaman Kapal Samudraraksa yang pernah digunakan untuk mengarungi samudra dari Indonesia sampai Ghana.

Kapal ini telah berhasil mencatat sejarah dalam Exspedisi Kapal Samudraraksa untuk menapaki kembali perjalanan penjelajahan bahari abad ke-8.

Dalam museum ini, Anda dapat melihat betapa kokohnya kapal yang dibuat dengan cara tradional. Anda juga dapat melihat benda-benda yang pernah digunakan pada saat melakukan pelayaran. Misalnya saja: peralatan memasak, peralatan rumah tangga sehari-hari, buku, CD, dan kaset. Bagi awak kapal buku menjadi pembunuh kejenuhan. Sedangankan CD dan kaset menjadi penghibur hati ataupun sebagai pelepas rindu pada orang-orang yang dicintai. Ada juga obat-obat sebagai penjaga kesehatan.

Ketika YogYES.COM berkunjung pada 9 Maret 2006 (berbulan-bulan setelah Kapal Samudraraksa bersemayam di museum ini), ternyata pada bagian sayap kapal masih meneteskan air. Dan percaya atau tidak bila Anda merasakannya air tersebut terasa asin, layaknya air laut.
Samudraraksa dari relieft hingga Afrika

* 8 November 1982 Philip Beale berkunjung ke Candi Borobudur dan mengagumi relief kapal pada candi tersebut, ia terilhami untuk “napak tilas” jalur pelayaran Kapal Borobudur.
* September 2002 Philip Beale menghubungi Nick Burningham untuk merancang kapal Borobudur yang layak mengarungi samudra.
* 19 Januari 2003 Kapal Borobudur mulai dibuat oleh As’ad Abdullah yang berusia 69 tahun di Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura dengan menggunakan teknologi tradisional.
* Mei 2003 Diadakan seleksi untuk calon anak buah kapal.
* 25 Mei 2003 Kapal Borobudur diluncurkan ke laut.
* Juni 2003 Uji Coba pelayaran dari Pulau Pangerungan kecil ke Benoa (Bali), melewati perairan Banyuwangi.
* 2 Juli 2003 Seminar pra peluncuran Kapal Borobudur di Jakarta.
* 16 Juli 2003 Kapal Borobudur diresmikan oleh Mentri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika, kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers.
* 22 Juli 2003 Kapal Borobudur meninggalkan Benoa menuju Ancol, Jakarta, melewati Surabaya, Karimunjawa, dan Semarang.
* 15 Agustus 2003 Kapal Borobudur diberinama Samudraraksa yang berarti “Pelindung Lautan”. sekaligus diberangkatkan ke Madagaskar oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
* 12 September 2003 Pelayaran mencapai pelabuhan Victoria, Seychelles.
* 29 Septembet 2003 Kapal Samudraraksa meninggalkan Seychelles menuju Madagaskar.
* Tgl 14 Oktober 2004 Kapal Samudraraksa mencapai Mahajanga, Madagaskar.
* 26 Oktober 2003 Kapal Samudraraksa menuju Cape Town, Afrika Selatan.
* 116 November 2003 Singgah di Richards Bay.
* 1 Desember 2003 Singgah di Pelabuhan Durban.
* 7 Desember 2003 Singgah di Pelabuhan Elizabeth.
* 5 Januari 2004 tiba di Cape Town, Afrika Selatan.
* 17 Januari 2004 berangkat menuju Ghana.
* 3 Februari 2004 mencapai Jamestown Bay, ST. Helena.
* 23 Februari 2004 Kapal Samudrakaksa sampai di tujuan akhir dan berlabuh di Pelabuhan Tema, Accra, Graha.
* 26 Maret 2004 Para awak kapal Samudraraksa mendapat Satya Lencana dari Presiden Megawati Sukarnoputri.

Akhirnya kapal perkasa yang telah mengarungi ribuan kilometer dan memecah gelombang samudra bersemayam di museum ini.
Kapal Samudraraksa

Kapal Samudraraksa mempunyai ukuran:

* panjang 18,29 meter
* lebar 4,50 meter
* tinggi badan 2,25 meter

Kapal ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

* depan (kabin tempat tidur)
* tengan (ruang makan dan navigasi)
* buritan (ruang kemudi, dapur, cuci piring)

Dalam pelayarannya Kapal Samudraraksa dilengkapi dengan:

* 2 layar tanjak
* 2 buah kemudi
* cadik ganda

Kapal Samudraraksa berkecepatan 3-10 knot. Dengan kapasitas kapal:

* 16 orang
* 1500 liter air tawar
* 900 kg beras
* 2 upright sails
* 1 ton kayu baker
* 0,5 ton bahan makanan dan bumbu

Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas keselaman selama melakukan pelayaran, yaitu:

* Global Positioning Satelite (untuk mengetahui posisi kapal)
* NavTex (untuk menerima informasi cuaca)
* EchoSounder (untuk mendeteksi kedalaman air)
* Inmarsat Telephone Satelite (untuk komunikasi di tengah lautan)
* Lift Raft (dua buah rakit apung)

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

PINISI

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar[2] dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia

Sejarah

Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkiraka kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk ber

layar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.

Ritual pembangunan Pinisi

Para pengrajin harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu d

apat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut “punggawa” memimpin pencarian.

Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khus

us. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu.

Ada dua jenis kapal pinisi

1. Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM).

2. Palari. adalah bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamda.

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

PERAHU

Perahu atau bot merupakan sejenis kenderaan air yang biasanya lebih kecil dari kapal. Sesetengah perahu boleh dibawa di atas kapal atau darat menggunakan treler – malah salah satu pengertian perahu ialah sejenis lancang air yang boleh dibawa oleh kapal.

Perahu mempunyai struktur pengapungan yang dipanggil hul dan sistem dorongan seperti kipas, dayung, galah, layar dan jet air.

Sistem dorongan

Perahu boleh digerakkan melalui air dengan beberapa cara, antaranya:

  • Tenaga manusia (dayung, kayuh, galah)
  • Tenaga angin (berlayar)
  • Menggunakan motor kipas
    • Motor di dalam (inboard)
      • Pembakaran dalaman (gasolin, diesel)
      • Wap (arang, minyak)
      • Nuklear (bot BESAR)
    • Dalam/luar (sterndrive)
      • Gasolin
      • Diesel
    • Motor sangkut (outboard)
      • Gasolin
      • Elektrik
    • Roda kayuh
    • Jet air (Jetski, Personal Water Craft, bot jet)
    • Kipas udara (Hoverkraf, bot udara)

Jenis perahu

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 

Indonesia Masuk Daftar Negara Produsen Kapal

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah media maritim internasional menempatkan Indonesia dalam jajaran 22 negara pembuat kapal utama dunia. Menurut hasil riset pengamat maritim dari Institut Teknologi Surabaya Saut Gurning itu, Indonesia berada di urutan ke-21.

“Prestasi ini momentum memperkuat industri galangan kapal nasional yang hampir tanpa bantuan sama sekali dari pemerintah,” katanya via surat elektronik dari Australia kemarin.

Saut merujuk rilis dari World Shipbuilding Statistics edisi Juni 2006 dan Juni 2007, majalah Ships and Shipping edisi Oktober 2007, dan Perbandingan Produksi Galangan kapal ASEAN dan Australia 2007-2009.
Galangan Kapal di Semarang
Tercatat sekitar 13 usaha galangan kapal aktif di Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT PAL Surabaya, Labroy Shipbuilding Batam, Pan-United Batam, Dumas-Surabaya, ASL Shipyard-Batam, Batamec-Batam, Bristoil Offshore Indonesia-Batam, Jaya Asiatic-Batam, Kodja Bahari-Jakarta, Mariana Bahagia-Palembang, Noahtu Shipyard-Panjang, Dok Perkapalan Surabaya, dan Tunas Karya Bahari.

Saut menjelaskan, berdasarkan riset tadi, hingga Juni 2007 galangan kapal di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan berhasil mendapatkan order produksi kapal dari asing dan domestik sekitar 586.000 GT (gross-tonnage) dengan jumlah pesanan 126 unit kapal. Nilai kontrak produksi kapal baru diperkirakan sekitar US$ 1,1 miliar (Rp 10 triliun).

Dari 126 unit kapal pesanan, 37 unit di antaranya kapal jenis pengangkut barang dan 89 unit kapal-kapal dalam kategori non-cargo vessels. Nah, dari 37 kapal kargo yang sedang dan akan dibangun di Indonesia, diperkirakan mayoritas adalah tipe dry bulk-carrier (pengangkut curah kering).

 
Leave a comment

Posted by on 17 November 2009 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.